IRI
HATIMU
Namaku Nazika Kairinisa dan biasa dipanggil Ziha. Aku
lahir dari keluarga yang harmonis. Aku mempunyai dua saudara dan aku adalah anak
yang terakhir. Waktu kecilku selalu dihiasi akan hal-hal yang menyenangkan.
Orang tuaku sangat perduli padaku, memperhatikanku dan selalu mencukupi semua
kebutuhanku. Aku kecil adalah anak yang tidak banyak menuntut terhadap orang
tua.
Detik berganti menit, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, aku tumbuh dewasa. Hm...... oh ya aku bukan anak tunggal, melainkan aku mempunyai seorang kakak perempuan lho. Sekarang aku duduk di bangku SMP. Aku merupakan salah satu siswa dari salah satu SMP terbaik di kotaku. Begitu juga dengan kakakku yang merupakan siswa dari SMA terbaik di kotaku. Untuk bisa menimba ilmu di sekolah yang aku inginkan, aku harus berjuang. Untuk masuk saja, aku harus rela untuk menggunakan waktu luangku untuk belajar.
Namun, disamping semua perjuanganku itu aku menjuampai beberapa kendala. Tak ayal pula, kendala itu sering membuatku merasa jengkel. Salah satu kendala yang aku jumpai dalam perjuanganku datang dari salah satu temanku sendiri. Ya...... memang tak semua orang memiliki watak yang sama. Dan tak heran pula antara orang satu dengan orang yang lain memiliki pandangan serta pemikiran yang berbeda-beda.
Dari semua teman yang kumiliki, aku memiliki salah satu teman yang kurang suka denganku. Sebut saja namanya Nisa. Awalnya, ia setahun lebih dulu masuk SD dari pada aku. Namun, karena usianya masih terlalu kecil, kedua orang tuanya sepakat agar Nisa mengulang kembali kelas satunya, sehingga ia sepantaran denganku, tetapi kami berbeda sekolah.
Sebelumnya kita menjalani pertemanan seperti layaknya orang lain. Dulu aku dan Nisa waktu masih kecil biasanya bermain bersama. Kita mengaji bersama dan sering bersepeda bersama. Terkadang, aku juga datang ke rumahnya untuk bermain bersama dan sebaliknya.
“Ziha, nanti kamu
main ke rumah aku ya?” tanya Nisa penuh harapan.
“Hm.... boleh... oh
ya bagaimana kalau kita nanti mengerjakan PR bersama?” tanya Ziha antusias.
“Oke”. Nisa menjawab
dengan wajah ceria.
Itulah sedikit kegiatan yang hampir setiap harinya aku
jalani bersama Nisa. Kita juga melewati berbagai suka cita bersama teman-teman
yang lain. Namun, seiring berjalannya waktu semuanya berbalik seratus delapan
puluh derajat. Sekarang, aku merasa Nisa sudah tidak menganggap aku sebagai
kawan. Melainkan ia menganggapku sebagai lawan.
Menurutku, semenjak ia menjadi sepantaran denganku. Ia
menjadi lebih posesif dan selalu mengedepankan kemenangan. Kemengan yang
kumaksud adalah prestasi. Ia rela memusuhiku hanya karena sebuah ambisi. Tak
jarang pula teman Nisa yang lain menilai bahwa ia hanya mengejar ambisinya
untuk menjadi nomor satu diantara yang lain.
Namun, cara yang dia lakuakan salah. Ia menganggapku sebagai lawan terbesarnya, agar ia bisa menjadi orang terpintar di antara yang lainnya. Bahkan, soal mengaji pula ia bersikap sama sepertiku. Setiap hari ia pasti menanyaiku tentang nilai mengaji yang kuperoleh. Jika ia mendapat nilai lebih baik dari pada aku, ia selalu bersikap sombong kepadaku dan sebaliknya, jika aku memperoleh nilai lebih baik darinya ia pasti bersikap kesal kepadaku. Namun, aku tidak menggubris sikapnya kepadaku.
Tak termasuk juga pada saat aku mau masuk SMP. Nilai hasil ujian nasionalku lebih tinggi dari Nisa. Tentu, hal tersebut membuat dirinya semakin membenci diriku.
“Eh
Ziha, niali UN kamu 26,30 ya?” tanya
Nisa kepadaku.
“Em..
kamu kok tahu sih? Emangngnya kamu tahu dari mana Nis? tanya Ziha keheranan.
“Kamu
gak perlu tahu soal itu, lagi pula itu nggak penting” jawab Nisa dengan ketus.
“Memangnya nilai UN kamu berapa Nis?”
tanyaku penasaran.
“nilaiku lebih rendah dari kamu. Kenapa
emangnya?” jawab Nisa dengan angkuh.
“Ow... terserah kalau kamu gitu Nis.”
jawabku sedikit kesal.
Begitupun, saat aku masuk ke
salah satu SMP favorit, ia merasa kesal kepadaku. Hal itu ditunjukkan melalui
raut mukanya yang angkuh dan kesal setiap ia bertemu denganku, waktu aku pulang
sekolah. Kedua orang tuaku juga tahu akan hal tersebut. Aku sering berbagi
cerita dengan ibuku.
“
Ibu, aku rasa Nisa selalu tidak terima jika aku mendapat hal yang lebih baik
dari dirinya.” Ukarku dengan nada lesu.
“Nisa,
ibu paham apa yang sedang kamu rasakan, ibu dulu juga pernah memiliki teman
yang seperti itu.”
“Terus...
aku harus bersifat bagaima?” jawab Nisa.
“Kamu
tidak boleh memsuhinya, jika kamu diajak bicara dengannya kamu harus tetap menjawabnya,
walaupun kamu merasa kesal dengannya, namun kamu tidak boleh membalasnya.”
Jawab ibu meyakinkan.
Memang kami sudah lama tidak bertemu, namun aku
tidak menyangka jika ia masih saja mengikutiku. Ya..... memang kami bersekolah
di sekolah yang berbeda. Namun, ternyata dia sering mencari informasi tentaganku.
Dia sering mencari tahu siapa saja teman yang kumiliki, begaimana kehidupanku
sekarang, dan bahkan dia sering mencari sifat jelekku. Dan sudah pasti, setiap
orang yang mengalami hal sepertiku akan merasa sangat jengkel, dan termasuk
pula aku.
Padahal, aku tidak
pernah memperlakukan dia seperti itu, tapi entah mengapa dia selalu bersikap
tidak baik kepadaku. Tak hanya soal urusan sekolah namun dalam segala hal, ia
anggap sebagai persaingan. Ya.... ya... ya... bagaimanapun sifatnya, namun aku
harus bersikap bijaksana, aku akan selalu menerima bagaimanapun perlakuan dia
kepadaku. Karena, jika aku membalasnya aku tidak mendapat keuntungan apa-apa
dan hanya akan menambah dosa. Aku selalu berusaha agar bisa beradaptasi dan
menerima segala sifat orang-orang di sekitarku.
Bumi terus berputar,
hari-hari terus berlalu bulan Ramadhan tiba. Aku dan orang tuaku sholat Tarawih
di masjid. Aku melihat Nisa. Aku tersenyum melihatnya, namun ia hanya sedikit
tersenyum. Dalam hati aku merasasedih tetapi juga kesal kepadanya.
“Huh..... kenapa sih
dia nggak mau berubah kepadaku, padahal aku sudah berusaha baik kepadanya. Ah
tapi gak papalah sifat orang kan berbeda-beda.” Ujarku dalam hati seraya
berfikir positif.
Hari
hari terus berlalu bersama sejuta kenangan yang telah aku lalui, baik susah
maupun senang. Dan kini telah tiba saatnya hari raya Idul Fitri. Takbir terus
berkumandang. Suasana senag aku rasakan betapa tetramnya jiwaku hari ini,
betapa senangnya hatiku hari ini. Akhirnya, setelah sebulan berpuasa, kini kami
bisa merayan hari raya. Hari ini, aku bangun pagi. Lalu, aku sholat subuh,
kemudian aku mandi dan bersiap-siap untuk mengikuti sholat Idhul Fitri.
“Ziha,
ayo kita ke masjid.” Ajak ibuku dengan penuh semangat.
“iya
bu... tunggu sebentar.” Jawabku sedikit berteriak.
Kemudian,
aku dan ibuku berangkat ke masjid bersama. Kulihat, sudah banyak orang yang
shafnya sudah rapi. Lalu, setelah beberapa menit kemudian, sholat dimulai.
Semua orang sholat dengan khusyuk.dan setelah melaksanakan sholat orang-orang
berjabat tangan dengan hangat dan saling meminta maaf satu sama lain.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagus cerpennya 😊
BalasHapuswah cerpennya bagus, bisa diambil amanatnya untuk kehidupan sehari-hari
BalasHapusCerpennya bagus 👍👍👍
BalasHapus