Minggu, 28 Januari 2018

Cara membuat nasi goreng

      Bahan Yang Dibutuhkan  :

·         Nasi
·         Telur 1 butir
·         Bawang merah 5 siung
·         Bawang putih 3 siung
·         Cabai
·         Kecap 2 sendok makan
·         Garam 1 sendok teh
·         Ketumbar bubuk ½ sendok teh
·         Margarin
·         Kerupuk

      Langkah-Langkah Pembuatan :

1.    Masukkan bawang merah, bawang putih, dan cabai merah ke dalam cobek 
                 kemudian tumbuk sampai halus
2.    Bumbu yang telah dihaluskan kemudian dimasukkan ke teflon untuk ditumis,         jangan lupa tambahkan garam dan ketumbar bubuk
3.    Masukkan nasi dan aduk sampai bumbu tercampur rata dengan nasi
4.    Tambahkan kecap. Aduk hingga rata.
5.    Setelah baunya harum tuangkan nasi ke piring
6.    Kemudian buatlah telur dadarnya
7.    Taruh telur dadar di atas nasi goreng
8.    Tambahkan kerupuk
9.    Nasi goreng siap disajikan


Thank's !

Sabtu, 27 Januari 2018

cerpen??? ya gini!!



IRI HATIMU

Namaku Nazika Kairinisa dan biasa dipanggil Ziha. Aku lahir dari keluarga yang harmonis. Aku mempunyai dua saudara dan aku adalah anak yang terakhir. Waktu kecilku selalu dihiasi akan hal-hal yang menyenangkan. Orang tuaku sangat perduli padaku, memperhatikanku dan selalu mencukupi semua kebutuhanku. Aku kecil adalah anak yang tidak banyak menuntut terhadap orang tua.

Detik berganti menit, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, aku tumbuh dewasa. Hm...... oh ya aku bukan anak tunggal, melainkan aku mempunyai seorang kakak perempuan lho. Sekarang aku duduk di bangku SMP. Aku merupakan salah satu siswa dari salah satu SMP terbaik di kotaku. Begitu juga dengan kakakku yang merupakan siswa dari  SMA terbaik di kotaku. Untuk bisa menimba ilmu di sekolah yang aku inginkan, aku harus berjuang. Untuk masuk saja, aku harus rela untuk menggunakan waktu luangku untuk belajar.

Namun, disamping semua perjuanganku itu aku menjuampai beberapa kendala. Tak ayal pula, kendala itu sering membuatku merasa jengkel. Salah satu kendala yang aku jumpai dalam perjuanganku datang dari salah satu temanku sendiri. Ya...... memang tak semua orang memiliki watak yang sama. Dan tak heran pula antara orang satu dengan orang yang lain memiliki pandangan serta pemikiran yang berbeda-beda.
         
  Dari semua teman yang kumiliki, aku memiliki salah satu teman yang kurang suka denganku. Sebut saja namanya Nisa. Awalnya, ia setahun lebih dulu masuk SD dari pada aku. Namun, karena usianya masih terlalu kecil, kedua orang tuanya sepakat agar Nisa mengulang kembali kelas satunya, sehingga ia sepantaran denganku, tetapi kami berbeda sekolah.
           
   Sebelumnya kita menjalani pertemanan seperti layaknya orang lain.  Dulu aku dan Nisa waktu masih kecil biasanya bermain bersama. Kita mengaji bersama dan sering bersepeda bersama. Terkadang, aku juga datang ke rumahnya untuk bermain bersama dan sebaliknya.
“Ziha, nanti kamu main ke rumah aku ya?” tanya Nisa penuh harapan.
“Hm.... boleh... oh ya bagaimana kalau kita nanti mengerjakan PR bersama?” tanya Ziha antusias.
“Oke”. Nisa menjawab dengan wajah ceria.

Itulah sedikit kegiatan yang hampir setiap harinya aku jalani bersama Nisa. Kita juga melewati berbagai suka cita bersama teman-teman yang lain. Namun, seiring berjalannya waktu semuanya berbalik seratus delapan puluh derajat. Sekarang, aku merasa Nisa sudah tidak menganggap aku sebagai kawan. Melainkan ia menganggapku sebagai lawan.

 Menurutku, semenjak ia menjadi sepantaran denganku. Ia menjadi lebih posesif dan selalu mengedepankan kemenangan. Kemengan yang kumaksud adalah prestasi. Ia rela memusuhiku hanya karena sebuah ambisi. Tak jarang pula teman Nisa yang lain menilai bahwa ia hanya mengejar ambisinya untuk menjadi nomor satu diantara yang lain.

Namun, cara yang dia lakuakan salah. Ia menganggapku sebagai lawan terbesarnya, agar ia bisa menjadi orang terpintar di antara yang lainnya. Bahkan, soal mengaji pula ia bersikap sama sepertiku. Setiap hari ia pasti menanyaiku tentang nilai mengaji yang kuperoleh. Jika ia mendapat nilai lebih baik dari pada aku, ia selalu bersikap sombong kepadaku dan sebaliknya, jika aku memperoleh nilai lebih baik darinya ia pasti bersikap kesal kepadaku. Namun, aku tidak menggubris sikapnya kepadaku.

Tak termasuk juga pada saat aku mau masuk SMP. Nilai hasil ujian nasionalku lebih tinggi dari Nisa. Tentu, hal tersebut membuat dirinya semakin membenci diriku.
            “Eh Ziha, niali UN kamu 26,30  ya?” tanya Nisa kepadaku.
            “Em.. kamu kok tahu sih? Emangngnya kamu tahu dari mana Nis? tanya Ziha keheranan.
            “Kamu gak perlu tahu soal itu, lagi pula itu nggak penting” jawab Nisa dengan ketus.
“Memangnya nilai UN kamu berapa Nis?” tanyaku penasaran.
“nilaiku lebih rendah dari kamu. Kenapa emangnya?” jawab Nisa dengan angkuh.
“Ow... terserah kalau kamu gitu Nis.” jawabku sedikit kesal.

Begitupun, saat aku masuk ke salah satu SMP favorit, ia merasa kesal kepadaku. Hal itu ditunjukkan melalui raut mukanya yang angkuh dan kesal setiap ia bertemu denganku, waktu aku pulang sekolah. Kedua orang tuaku juga tahu akan hal tersebut. Aku sering berbagi cerita dengan ibuku.
            “ Ibu, aku rasa Nisa selalu tidak terima jika aku mendapat hal yang lebih baik dari dirinya.” Ukarku dengan nada lesu.
            “Nisa, ibu paham apa yang sedang kamu rasakan, ibu dulu juga pernah memiliki teman yang seperti itu.”
            “Terus... aku harus bersifat bagaima?” jawab Nisa.
            “Kamu tidak boleh memsuhinya, jika kamu diajak bicara dengannya kamu harus tetap menjawabnya, walaupun kamu merasa kesal dengannya, namun kamu tidak boleh membalasnya.” Jawab ibu meyakinkan.

Memang  kami sudah lama tidak bertemu, namun aku tidak menyangka jika ia masih saja mengikutiku. Ya..... memang kami bersekolah di sekolah yang berbeda. Namun, ternyata dia sering mencari informasi tentaganku. Dia sering mencari tahu siapa saja teman yang kumiliki, begaimana kehidupanku sekarang, dan bahkan dia sering mencari sifat jelekku. Dan sudah pasti, setiap orang yang mengalami hal sepertiku akan merasa sangat jengkel, dan termasuk pula aku.

Padahal, aku tidak pernah memperlakukan dia seperti itu, tapi entah mengapa dia selalu bersikap tidak baik kepadaku. Tak hanya soal urusan sekolah namun dalam segala hal, ia anggap sebagai persaingan. Ya.... ya... ya... bagaimanapun sifatnya, namun aku harus bersikap bijaksana, aku akan selalu menerima bagaimanapun perlakuan dia kepadaku. Karena, jika aku membalasnya aku tidak mendapat keuntungan apa-apa dan hanya akan menambah dosa. Aku selalu berusaha agar bisa beradaptasi dan menerima segala sifat orang-orang di sekitarku.

Bumi terus berputar, hari-hari terus berlalu bulan Ramadhan tiba. Aku dan orang tuaku sholat Tarawih di masjid. Aku melihat Nisa. Aku tersenyum melihatnya, namun ia hanya sedikit tersenyum. Dalam hati aku merasasedih tetapi juga kesal kepadanya.

“Huh..... kenapa sih dia nggak mau berubah kepadaku, padahal aku sudah berusaha baik kepadanya. Ah tapi gak papalah sifat orang kan berbeda-beda.” Ujarku dalam hati seraya berfikir positif.

            Hari hari terus berlalu bersama sejuta kenangan yang telah aku lalui, baik susah maupun senang. Dan kini telah tiba saatnya hari raya Idul Fitri. Takbir terus berkumandang. Suasana senag aku rasakan betapa tetramnya jiwaku hari ini, betapa senangnya hatiku hari ini. Akhirnya, setelah sebulan berpuasa, kini kami bisa merayan hari raya. Hari ini, aku bangun pagi. Lalu, aku sholat subuh, kemudian aku mandi dan bersiap-siap untuk mengikuti sholat Idhul Fitri.

            “Ziha, ayo kita ke masjid.” Ajak ibuku dengan penuh semangat.
            “iya bu... tunggu sebentar.” Jawabku sedikit berteriak.
           
            Kemudian, aku dan ibuku berangkat ke masjid bersama. Kulihat, sudah banyak orang yang shafnya sudah rapi. Lalu, setelah beberapa menit kemudian, sholat dimulai. Semua orang sholat dengan khusyuk.dan setelah melaksanakan sholat orang-orang berjabat tangan dengan hangat dan saling meminta maaf satu sama lain.

            Setelah sholat, aku dan kakakku berkunjung ke rumah tentangga. Hari itu, aku merasa hatiku sangat damai, melihat orang yang saling memaafkan. Kemudian, setelah aku berkunjung ke rumah tetengga, aku dan kakakku pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak. Kemudian, pada sore harinya ada tamu di rumahku. Mereka adalah Nisa dan ibunya. Aku dan Nisa berjabat tangan, walaupun aku melihat raut mukanya angkuh dan kurang ikhlas, namun aku berusaha untuk melapangkan hatiku. Dan aku berharap agar Nisa bisa berubah, untuk tidak menganggapku sebagai penyaingnya dalam menuntut ilmu.                                                                                                                                                                             

Cara membuat nasi goreng         Bahan Yang Dibutuhkan  : ·           Nasi ·           Telur 1 butir ·           Bawang merah 5...